DMCA.com Protection Status
Ailine
Logo Blog Islami Ailine - Motivasi, Doa, dan Tips Sehari-hari

Tips Memberi Nama Anak agar Tidak Menyesal: Panduan Nama yang Baik Menurut Islam

Nama Bayi Islami yang Baik Menurut Islam: Urutan Nama Terbaik dan Larangan dalam Memilih Nama

Memberi nama anak sering terasa seperti memilih satu kata sederhana.

Padahal, nama itu akan menemani seseorang sejak kecil, dipanggil oleh orang tua, ditulis di berbagai dokumen, disebut dalam pergaulan, bahkan menjadi sesuatu yang terus melekat padanya.

Orang tua memilih nama bayi Islami yang baik berdasarkan arti dan tuntunan Islam
Image by Johnstocker from Pixabay

Karena itu, memilih nama anak bukan sekadar mencari nama yang terdengar indah.

Apa yang Harus Diperiksa Sebelum Memilih Nama?

Sebelum menetapkan nama anak, jangan hanya mencari daftar “100 nama bayi laki-laki Islami” lalu memilih yang bunyinya paling bagus.

Periksa beberapa hal berikut.

1. Teliti arti sebenarnya

Jangan hanya percaya pada satu situs nama bayi.

Cari arti dari sumber bahasa Arab atau sumber yang lebih dapat dipercaya.

Perhatikan juga apakah arti tersebut benar secara bahasa atau hanya hasil terjemahan internet.

2. Periksa apakah maknanya baik

Tanyakan:

  • Apakah maknanya positif?
  • Apakah ada makna negatif?
  • Apakah memiliki lebih dari satu arti?
  • Apakah ada arti yang memalukan dalam bahasa lain?
  • Apakah mudah disalahpahami?

Nama yang terdengar indah dalam satu bahasa belum tentu terdengar indah dalam bahasa lain.

3. Periksa unsur akidahnya

Pastikan tidak ada unsur penghambaan kepada selain Allah.

Hindari nama yang mengandung klaim ketuhanan atau kekhususan Allah.

4. Periksa kemungkinan menjadi bahan ejekan

Ini bukan perkara syariat secara langsung, tetapi sangat masuk akal untuk dipertimbangkan.

Anak akan membawa nama itu ke sekolah.

Ia akan memperkenalkan diri kepada teman.

Ia akan menuliskannya pada formulir.

Ia akan mendengar namanya dipanggil berkali-kali.

Jangan sengaja memberikan nama yang sangat sulit dilafalkan atau memiliki bunyi yang mudah dipelesetkan menjadi ejekan.

5. Periksa cara penulisan dan pelafalannya

Nama yang terlalu rumit kadang membuat anak harus menjelaskan ejaannya sepanjang hidup.

Sekali dua kali mungkin lucu.

Kalau setiap membuat akun, kartu identitas, sertifikat, dan daftar sekolah harus berkata, “Bukan begitu tulisannya,” lama-lama lelah juga.

Keindahan nama tidak harus datang dari kerumitan.

6. Periksa makna dalam bahasa daerah atau bahasa lain

Ini semakin penting pada zaman sekarang.

Nama yang memiliki arti baik dalam bahasa Arab bisa saja memiliki bunyi yang mirip dengan kata yang lucu atau kurang pantas dalam bahasa Indonesia atau bahasa daerah.

Karena itu, sebelum mengunci nama, coba ucapkan beberapa kali.

Dengar bagaimana kemungkinan orang lain memanggilnya.

Kadang baru terlihat setelah nama itu diucapkan beberapa kali.

Jangan Mencari “Nasib Buruk” di Balik Nama

Mempertimbangkan kekurangan sebuah nama itu masuk akal.

Tetapi jangan sampai berubah menjadi mencari pertanda buruk.

Misalnya, jangan berpikir:

“Orang yang bernama ini biasanya hidup susah.”

“Atau nama ini pasti membuat anaknya tidak beruntung.”

“Itu nama membawa kesialan.”

Pernyataan seperti itu tidak mempunyai dasar, hanya karena seseorang kebetulan mengalami kejadian buruk setelah memakai nama tertentu.

Yang diperiksa adalah makna dan hukum namanya secara syariat, bukan ramalan masa depan.

Nama yang Baik Tidak Harus Unik

Ada kecenderungan sebagian orang tua merasa nama anak harus sangat unik agar berbeda dari yang lain.

Tidak ada masalah memiliki nama yang unik selama maknanya baik.

Tetapi jangan sampai keunikan menjadi tujuan utama.

Nama yang sederhana tetapi memiliki makna tauhid, kebaikan, dan sejarah yang mulia jauh lebih baik daripada nama yang terdengar asing tetapi tidak jelas artinya.

Anak tidak membutuhkan nama yang membuat semua orang kagum.

Anak membutuhkan nama yang baik dan orang tua yang mau mendidiknya dengan baik.

Orang tua memilih nama bayi Islami yang baik berdasarkan arti dan tuntunan Islam
Ilustrasi Foto: Pexels / Zariflavin 🌼

Islam Menganjurkan Memberi Nama yang Baik

Pada dasarnya, nama adalah sesuatu yang digunakan untuk mengenali seseorang dan nama itu bukan penentu nasib dirinya.

Tetapi nama yang baik adalah bagian dari ikhtiar orang tua untuk memberikan sesuatu yang baik kepada anak sejak awal kehidupannya.

Orang tua memilih nama bayi Islami yang baik berdasarkan arti dan tuntunan Islam
Image by jun yang from Pixabay
“Nama bukan jaminan seseorang menjadi baik, tetapi memilih nama yang baik adalah salah satu bentuk ikhtiar orang tua.”

Urutan Nama yang Afdhal dalam Fiqih

Dalam sebagian kitab fiqih Syafi’iyyah dijelaskan urutan nama yang lebih afdhal sebagai berikut:

  1. Abdullah
  2. Abdurrahman
  3. Nama yang menggunakan “Abd” yang disandarkan kepada salah satu nama Allah yang layak digunakan, seperti Abdul Aziz, Abdurrahim, Abdul Khaliq, Abdurrazaq, dan semisalnya.
  4. Muhammad
  5. Ahmad

Urutan ini perlu dipahami dengan tepat.

Bukan berarti nama selain Abdullah dan Abdurrahman menjadi jelek atau tidak boleh digunakan.

Nama-nama tersebut tetap bisa menjadi nama yang baik selama tidak mengandung makna yang dilarang.

Jadi, orang tua tidak perlu merasa bersalah hanya karena anaknya bernama selain Abdullah atau Abdurrahman.

Yang penting, jangan sampai mengejar nama yang terdengar sangat unik, tetapi setelah dicari artinya ternyata membuat orang tua sendiri ingin menghapus riwayat pencarian Google.

1. Abdullah dan Abdurrahman

Abdullah berarti hamba Allah, sedangkan Abdurrahman berarti hamba Ar-Rahman.

Keduanya memiliki kedudukan istimewa karena Nabi ï·º menyebutnya sebagai nama yang paling dicintai Allah.

Maknanya juga sangat baik karena mengingatkan bahwa manusia pada hakikatnya adalah hamba Allah.

Nama tersebut bukan sekadar terdengar Islami. Di dalamnya terdapat makna penghambaan kepada Allah.

2. Nama yang Mengandung “Abdul” + Nama Allah

Setelah Abdullah dan Abdurrahman, nama yang disandarkan kepada nama-nama Allah juga termasuk nama yang baik.

Contohnya:

  • Abdul Aziz
  • Abdul Hakim
  • Abdul Karim
  • Abdul Latif
  • Abdul Malik
  • Abdul Qadir
  • Abdul Khaliq
  • Abdul Razaq
  • Abdurrahim
  • Abdussalam

Namun ada catatan penting.

Tidak semua nama atau sifat yang digunakan untuk Allah boleh begitu saja diberikan kepada manusia dalam bentuk tunggal.

Ada nama yang merupakan kekhususan bagi Allah.

Karena itu, bentuk “Abdul + nama Allah” memiliki pembahasan tersendiri dan tidak boleh asal membuat gabungan kata hanya karena terdengar indah.

3. Nama Nabi dan Rasul

Memberi nama anak dengan nama para nabi juga dibolehkan dan termasuk pilihan yang baik.

Nama seperti Muhammad, Ahmad, Ibrahim, Musa, Isa, Nuh, Yusuf, Yunus, Zakariya, Yahya, dan nama nabi lainnya memiliki nilai yang baik.

Yang jelas, tidak ada alasan untuk menganggap nama Nabi sebagai nama yang tidak pantas diberikan kepada anak.

Justru nama tersebut dapat menjadi pengingat bagi keluarga untuk mengenal dan meneladani pemilik nama tersebut.

4. Nama Orang Saleh dan Tokoh Muslim yang Baik

Nama para sahabat dan orang-orang saleh juga boleh digunakan.

Misalnya nama Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali, Hasan, Husain, Aisyah, Fatimah, Khadijah, dan nama orang saleh dan salehah lainnya.

Orang tua memilih nama bayi Islami yang baik berdasarkan arti dan tuntunan Islam
Ilustrasi Foto: Unsplash / Ivan Andriavani

Memberikan nama seperti ini dapat menjadi pengingat untuk mengenal sejarah mereka.

Tetapi satu hal harus diingat: nama yang baik tidak otomatis membuat pemiliknya memiliki akhlak yang sama.

Nama Umar tidak otomatis membuat seseorang menjadi seperti Umar bin Khattab.

Nama Ayyub tidak otomatis membuat seseorang memiliki kesabaran Nabi Ayyub.

Nama adalah doa dan pengingat, sedangkan akhlak tetap membutuhkan pendidikan, keteladanan, dan perjuangan.

Baca juga: Anak Belajar Mengaji Tapi Belum Wudhu, Bolehkah Memegang Al-Qur'an?

Nama yang Maknanya Buruk Sebaiknya Dihindari

Islam tidak hanya mengajarkan untuk mencari nama yang indah, tetapi juga menghindari nama yang buruk.

Nabi ï·º pernah mengganti beberapa nama yang memiliki makna kurang baik.

Di antara nama yang disebut sebagai nama buruk adalah Harb yang bermakna peperangan dan Murrah yang berkaitan dengan rasa pahit.

Dalam pembahasan fiqih juga disebutkan contoh nama yang maknanya buruk seperti nama yang menunjukkan sifat tercela, kekerasan, atau sesuatu yang membuat pemiliknya mudah merasa malu ketika disebut.

Karena itu, jangan hanya bertanya:

“Bagaimana bunyinya?”

Tanyakan juga:

“Apa artinya?”

Nama Seperti Keledai, Anjing, atau Syaitan

Nama yang mengandung makna sangat buruk, seperti nama binatang yang digunakan sebagai celaan atau nama yang menunjukkan keburukan, sebaiknya ditinggalkan.

Dalam kitab fiqih Syafi’i, nama seperti Syaitan, Dzalim, Syihab (meteor/bintang jatuh yang berkaitan dengan api), Himar (keledai), Kalb (anjing), dan semisalnya termasuk nama yang dimakruhkan karena maknanya buruk.

Ada banyak nama baik lainnya. Jadi, untuk apa memilih nama yang sejak awal berpotensi membuat anak harus menjelaskan kepada orang lain, “Itu cuma nama, bukan sifat saya”?

Nama yang Mengandung Pesimisme atau Bisa Menjadi Ucapan yang Tidak Baik

Ada kelompok nama yang dimakruhkan karena ketika orang lain memanggil atau menanyakan pemilik nama tersebut, jawabannya dapat menghasilkan kalimat yang terdengar buruk.

Contoh yang disebut dalam hadis dan penjelasan ulama antara lain Barakah, Nafi’, Yasar, Aflah, dan Rabah.

Misalnya seseorang bernama Nafi’ (bermanfaat). Ketika orang bertanya, “Apakah Nafi’ ada?” lalu dijawab, “Tidak,” secara bahasa kalimat itu terdengar seperti “tidak ada manfaat”.

Begitu pula nama yang bermakna keberuntungan, kelapangan, keberhasilan, atau keberkahan dapat menimbulkan ungkapan yang secara lahiriah terdengar seperti meniadakan makna tersebut.

Karena alasan inilah ulama menjelaskan adanya kemakruhan pada nama-nama tersebut.

Namun penting untuk memahami hukumnya dengan benar.

Kemakruhan di sini bukan berarti nama tersebut otomatis haram dan pemilik nama tersebut bersalah hanya karena memilikinya.

Pembahasannya lebih kepada memilih nama yang lebih baik dan menghindari kemungkinan ucapan yang kurang baik.

Para ulama menjelaskan bahwa larangan atau ketidaksukaan terhadap sebagian nama tersebut berkaitan dengan kemungkinan munculnya jawaban yang tidak baik ketika nama itu dipanggil.

Jadi, jangan memahami masalah ini sebagai keyakinan bahwa nama tersebut membawa sial.

Islam tidak mengajarkan bahwa sebuah nama mempunyai kekuatan gaib untuk menentukan keberuntungan atau kesialan seseorang.

Yang diperhatikan adalah makna nama dan adab dalam penggunaannya.

Nama yang Sangat Buruk: “Raja dari Segala Raja”

Ada pula nama atau gelar yang tidak boleh digunakan atau diharamkan karena mengandung makna yang merupakan kekhususan bagi Allah.

Contoh yang sangat jelas adalah Malik al-Amlak, yang berarti “Raja dari segala raja”, “Aqdal Qudhat” yang berarti “hakim tertinggi di atas seluruh hakim”, “Hakimul Hukkam” yang berarti “hakimnya para hakim”, atau klaim sejenis perlu dihindari.

Dalam Shahih Muslim, Nabi ï·º memberikan ancaman keras terhadap orang yang diberi nama dengan gelar tersebut.

Sebab hakikat kerajaan mutlak adalah milik Allah.

Karena itu, nama atau gelar yang mengandung klaim seperti “raja dari segala raja”, “penguasa dari seluruh penguasa”, atau bentuk sejenisnya tidak boleh diperlakukan seperti nama biasa.

Bagaimana dengan “Sayyidun Nas” atau “Penghulu Manusia”?

Ungkapan seperti Sayyidun Nas atau Sayyid al-Kull memiliki persoalan tersendiri karena mengandung makna “pemimpin seluruh manusia” atau “tuan seluruh manusia”.

Para ulama membahas bahwa gelar-gelar tertentu yang merupakan kekhususan Nabi Muhammad ï·º tidak pantas diberikan kepada orang lain sebagai nama atau gelar khusus.

Begitu pula istilah seperti “Sayyidul ulama” atau “pemimpin seluruh ulama” perlu dihindari.

Karena nama semacam itu mengandung sepaling jelek kebohongan jika digunakan untuk memberi nama kepada anak.

bagaimana tidak? anaknya baru lahir dan langsung diberi nama “pemimpin seluruh ulama”, sedangkan orang tuanya sendiri tidak tahu bagaimana masa depannya dan akan jadi apa dia.

Nama yang Mengandung “Hamba” kepada Selain Allah

Ini bagian yang paling penting untuk diperhatikan.

Nama yang mengandung makna penghambaan kepada selain Allah tidak boleh digunakan atau diharamkan.

Contohnya:

  • Abdul Ka'bah, yang berarti hamba Ka'bah
  • Abdul Hasan, yang berarti hamba Hasan
  • Abdul Ali, yang berarti hamba Ali
  • Abdul Nabi, yang berarti hamba Nabi
  • Abdul Husain, yang berarti hamba Husain

Masalahnya bukan karena Hasan, Ali, Nabi, atau Ka'bah adalah sesuatu yang buruk.

Masalahnya terletak pada kata “abd” atau “hamba” yang disandarkan kepada selain Allah.

Karena itu, jika ingin menggunakan nama “Abdul”, pastikan penyandarannya kepada nama Allah yang benar dan sesuai dengan ketentuan ulama.

Jangan Membuat Nama yang Mengandung Klaim Ketuhanan

Nama yang mengandung sifat khusus bagi Allah juga diharamkan.

Misalnya nama yang secara khusus menunjukkan sifat ketuhanan atau nama Allah yang memang khusus bagi-Nya.

Contohnya adalah Al-Khaliq dalam makna “Sang Pencipta” sebagai nama khusus Allah, Al-Rahman, Al-Quddus, dan nama-nama khusus lainnya.

Namun bentuk seperti Abdul Khaliq dan Abdurrahman memiliki pembahasan yang berbeda karena menunjukkan penghambaan kepada Allah.

Inilah sebabnya memahami susunan sebuah nama lebih penting daripada sekadar melihat apakah katanya ada di dalam Asmaul Husna.

Bagaimana dengan “Jaarullah” atau “Rafiiqullah”?

Ungkapan seperti Jaarullah yang berarti “tetangga Allah” atau Rafiiqullah yang bermakna “teman Allah” juga termasuk pilihan nama yang diharamkan untuk digunakan.

Apakah Nama Menentukan Nasib Anak?

Tidak.

Ini bagian yang perlu diluruskan agar kita tidak terjebak dalam keyakinan yang keliru.

Nama bukan benda keramat.

Nama tidak mempunyai kekuatan gaib untuk membuat seseorang kaya, miskin, sukses, gagal, sehat, sakit, beruntung, atau sial.

Seorang anak bernama “Sa'id” yang berarti bahagia tidak otomatis akan menjalani hidup tanpa kesedihan.

Begitu pula seseorang dengan nama yang berarti kuat tidak otomatis menjadi orang paling kuat di kampungnya.

Baca juga: Ketika Anak Memukul, Bukan Saatnya Marah Tapi Mendekap

Memilih nama yang baik adalah bagian dari sunnah dan adab, bukan praktik meramal masa depan.

Checklist Sebelum Nama Anak Ditetapkan

Sebelum nama dicantumkan secara resmi, coba gunakan checklist sederhana ini:

  • Sudah tahu arti nama secara benar?
  • Sudah memastikan maknanya baik?
  • Tidak mengandung penghambaan kepada selain Allah?
  • Tidak menggunakan nama yang khusus bagi Allah secara tidak tepat?
  • Tidak mengandung klaim kedudukan mutlak?
  • Tidak termasuk nama yang dimakruhkan karena makna atau sebab tertentu?
  • Mudah diucapkan?
  • Mudah ditulis?
  • Tidak mudah dipelesetkan menjadi ejekan?
  • Tidak memiliki arti buruk dalam bahasa daerah atau bahasa lain?
  • Orang tua memahami alasan memilih nama tersebut?

Kalau semua sudah diperiksa, insyaAllah keputusan dalam memilih nama menjadi jauh lebih mantap.

Kesimpulan

Memilih nama anak dalam Islam bukan perlombaan mencari nama paling panjang, paling asing, atau paling sulit dibaca.

Yang lebih penting adalah nama tersebut baik secara makna, tidak bertentangan dengan akidah, tidak termasuk nama yang dilarang atau dimakruhkan, serta layak menemani anak dalam kehidupannya.

Nama yang paling dicintai Allah adalah Abdullah dan Abdurrahman. Setelah itu, dalam sebagian penjelasan fiqih Syafi'iyyah, terdapat nama-nama yang disandarkan kepada nama Allah, kemudian Muhammad dan Ahmad.

Nama para nabi dan orang-orang saleh juga merupakan pilihan yang baik.

Sebaliknya, nama yang buruk, mengandung penghambaan kepada selain Allah, atau mengandung klaim yang tidak layak bagi manusia harus dihindari.

Nama yang baik adalah awal yang baik, bukan jaminan bahwa anak otomatis menjadi baik.

Setelah memberi nama, tugas orang tua belum selesai.

Justru baru dimulai.

Ajarkan tauhidnya, perbaiki akhlaknya, berikan teladan, doakan kebaikannya, dan dampingi pertumbuhannya.

Karena pada akhirnya, anak bukan hanya akan ditanya, “Siapa Namamu?”

Ia juga akan dikenal dari “Siapa Dirinya”.

TANYAJAWAB

Apakah Abdullah dan Abdurrahman wajib menjadi nama anak Muslim?

Tidak. Keduanya adalah nama yang sangat dianjurkan karena disebut sebagai nama yang paling dicintai Allah dalam hadis sahih. Namun orang tua tetap boleh memilih nama lain selama nama tersebut memiliki makna yang baik dan tidak mengandung unsur yang dilarang.

Apakah nama yang makruh harus diganti?

Tidak semua nama yang makruh berarti haram. Jika seseorang sudah terlanjur memiliki nama yang makruh, pembahasan hukumnya berbeda dengan nama yang jelas-jelas haram. Untuk anak yang belum diberi nama, memilih nama yang lebih baik untuknya tentu lebih utama dan lebih aman.

Bagikan artikel ini jika bermanfaat. Jika kamu sedang memilih nama untuk anak, kamu juga bisa menuliskan pertimbanganmu di kolom komentar agar menjadi bahan diskusi yang bermanfaat bagi pembaca lainnya.

Posting Komentar